Nasihat & 3 Pesan Penting untuk Para Santri dari Habib Luthfi bin Yahya

Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfi bin Yahya memberikan tiga pesan penting kepada para santri di seluruh Indonesia. Pesan itu tak hanya tertuju kepada santri yang masih mondok di pondok pesantren.

Akan tetapi, pesan yang disampaikan itu juga berlaku kepada para alumni pondok pesantren. Pesan itu berkaitan dengan aktivitas para santri dalam menuntut ilmu hingga adab kepada guru.

Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada para santri. Ada pula bekal-bekal ruhiah yang membuat santri mendapat keberkahan dari Allah Ta’ala. Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:

1. Gemar Mengkaji Kitab (Mutholaah)

Menurut Habib Lutfhi, mutholaah menjadi kewajiban bagi para santri. Ia mencontohkan dirinya yang tak berhenti mengkaji sebuah kitab berulang kali. Ia berkeyakinan, aktivitas muthalaah yang terus berulang menjadi musabab keberkahan sebuah ilmu.

Tak hanya itu, Allah Ta’ala akan membukakan pintu ilmu kepada santri yang rajin mengkaji suatu kitab tertentu. Proses ini juga dilakukan oleh para ulama-ulama besar terdahulu. Tidak heran, jika tinta keilmuan bisa menembus ruang dan waktu.

“Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca sholawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syekh Abi Zakariyah al-Anshari tiap malam baca sholawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” kata Habib Luthfi,

2. Berkhidmah kepada Guru & Ulama

Santri harus berkhidmah kepada guru. Itu merupakan kunci untuk membuka pintu pemahaman. Tak lupa pula, seorang santri harus selalu mendoakan guru-guru mereka. Setidaknya membacakan Al-Fatihah kepada para guru tersebut.

Habib Luthfi menegaskan, melupakan guru merupakan sifat tak terpuji. Sebab, kunci futuh ada di tangan guru, meski santri lebih alim dari gurunya.

“Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.

3. Santri Harus Tawadhu di Depan Guru

Sifat tawadhu di depan guru merupakan hal yang harus dilakukan setiap guru. Meski memiliki jabatan tinggi, ataupun mempunya keilmuan lebih, namun seorang santri harus tetap memposisikan diri lebih rendah ketika berhadapan dengan guru.

“Selama di pondok, saya tidak pernah memposisikan diriku selaku Sayyid (Habib). Saya senantiasa memposisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walaupun sesungguhnya guruku tahu nasabku,” kata Habib Luthfi.

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL

Sebarkan Informasi ini